Dalam rentang waktu lima bulan, aparat kepolisian Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah mengirimkan 14 jenazah tersangka berbagai kasus kejahatan asal Kecamatan Jabung Lampung Timur. Kapolres Lamtim AKBP Dedi Jumadi Sumarsito, didampingi Kasatreskrim AKP Sugianto dan Kapolsek Jabung AKP Marwan Kholid, Senin (4-8), mengatakan para tersangka yang sebagian juga pernah beraksi di Lampung Timur itu ditembak karena melawan atau mencoba kabur saat akan ditangkap. Kasus kejahatan mereka, antara lain perampasan dan pencurian sepeda motor, serta perampokan bank. Selain Jabung, peti mati berisi mayat pelaku kejahatan juga dikirimkan ke Kecamatan Melinting. Selama lima bulan terakhir, polsek setempat menerima kiriman dua mayat pelaku kejahatan, masing-masing dari Poltabes Bandar Lampung dan Polres Lampung Selatan (Harian Umum Lampung Post. Selasa, 5 Agustus 2008)
Saya rasa akan timbul pertanyaan yang luar biasa dan sangat mendasar, tentang apa yang sebenarnya terjadi di Lampung Timur, sampai begitu parahkah kondisi perekonomian masyarakat sampai harus menjadi pelaku kejahatan dan beraksi di luar Lampung ?
Kalau pernah tinggal di Bandar Lampung atau di Lampung, tentunya tidak akan kaget dengan berita kriminlitas di Koran lokal bahwa mayoritas pembegal motor dan perampokan sadis yang terjadi di Lampung berasal dari Kabupaten ini, dan yang menarik para pelakunya adalah remaja tanggung berumur 15-30 tahunan.
Kabupaten Lampung Timur merupakan hasil otonomi daerah pasca reformasi 1998, kabupaten ini merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Tengah dan diresmikan pada 20 April 1999. Dengan kata lain sudah 9 tahun kabupaten ini berdiri.
secara geografis berada di pesisir timur dari Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Timur beribu kota di Sukadana, luas wilayahnya 433.789 Ha terdiri dari 24 (dua puluh empat) kecamatan dan 246 desa (Lampung dalam angka 2007), kabupaten ini merupakan sentra produksi jagung, dengan Kontribusi rata-rata produksi 371.455 ton/tahun ini setara dengan 30,75% total produksi Lampung yang mencapai rata-rata mencapai 1.163.947 ton/tahun
akses masuk ke Lampung Timur saat ini sudah banyak mengalami perbaikan dan peningkatan, terutama melalui jalan trans timur. Jalanya luar bisa bagus dengan aspal dan lebar jalan yang memadai, rasanya menginjak gas sampai 100 km/jam pun kita tak akan kesulitan, mengapa karena dengan kualitas jalan yang begitu mulus dan kondisi jalan yang lenggang, nyaris jarang berpapasan dengan kendaraan lain dalam radius dekat
Kabupaten ini mempunyai pelabuhan penangkapan ikan yang cukup besar dan berada dikecamatan Labuan meringgai, dari sebaranya kabupaten ini mempunyai potensi yang luar bisa mengingat dengan jumlah penduduk 929.159 jiwa (lampung dalam angka 2007) dan jumlah luas wilayah 433.789 Ha areal Ha, memiliki potensin pertanian yang besar terbukti total 99.566 ha dan merupakan areal pertanian yang Produktif
Dari 24 kecamatan yang ada, tulisan ini akan memfokuskan pada 4 kecamatan yang unik dari sudut pandang kriminolg, mengapa karna kempat kecamatan ini yakni Kecamatan Melinting, Gunung Pelindung, Labuhan Maringgai, Jabung merupakan eksportir utama dari para pelaku kejahatan terutama perampokan dan curanmor di wilayah Lampung dan Jawa.
Menarik… untuk dikaji fenomena ekspor pelaku kejahatan dari Kabupaten Lampung Timur. Hal ini penting karena nampaknya profesi kejahatan sudah menjadi semacam budaya tersendiri dan sudah mendapat “izin” dari masyarakat. Apa tidak ada pekerjaan lain di kampung yang bisa mereka kerjakan sampai pilihan sadar memilih menjadi “penjahat” menjadi opsi terakhir.
Hasil pengamatan penulis pada pertengahan Juli 2008 mengunjungi daerah ini, melihat kondisi masyarakat sebetulnya sangat majemuk dan normal seperti desa lainnya di Provinsi Lampung, hal ini terlihat dari pembauran antara masyarakat pendatang dan asli yang semuanya menggunakan bahasa lampung sebagai pengantar berbahasa sehari-hari.
Dua kali penulis mengunjungi Lampung Timur dalam rangka mencari pemuda pelopor desa yang akan dilatih di Tanjung karang. Hasil wawancara dengan salah seorang peserta yang berasal dari melinting mebeberkan fakta baru bahwa dalam satu tahun terakhir, aparat keamana yang masuk untuk mencari tersangka di melinting sudah sangat sering dan umumnya datang dengan kekuatan penuh, yakni dua mobil atau minimal 15 orang.
Pada awalnya aparat datang di siang hari, tapi kemudian lebih sering datang dini hari menjelang subuh, ini dimaksudkan untuk menghindari perlawanan masyarakat yang bergotong royong menjaga warganya yang hendak di “ciduk” oleh aparat
sambil berseloroh Dia mengilustrasikan bahwa seringkali subuh dini hari kentongan dipukul dan warga berteriak kalau ada polisi…. Mereka umumnya berteriak dan kompak untuk memberitahu warga lainnya bahwa ada polisi yang datang. Kemudian teriakan itu disusul oleh bunyi rentetan senapan yang mebelah keheningan malam. Umumnya aparat kepolisian gabungan (polda lampung dan Polda di jawa) kembali dengan tangan hampa, karena begitu kompaknya warga dalam bergotong royong membela di terdakwa.
Bagaimana dengan kehidupan beragama, dia bercerita kalau diwaktu sholat terutama waktu magrib dan Isya masjid umumnya penuh oleh warga yang berjamaah. Disini dapat kita kesimpulan awal bahwa pendidikan agama sudah sampai dan warga mayoritas memeluk agama Islam
Dia bercerita kalau umumnya masyarakat di daerahnya mayoritas bersuku Lampung, umumnya bermata pencaharian bercocok tanam dan berkebun, kalau menjadi peternak dia bercerita aga susah karena ternak yang dimiliki jarang bertahan lama karena tingginya tingkat pencurian oleh diantara masyarakat sendiri.
Antara percaya dan tidak, tapi itulah realitas yang terjadi di daerah Kabupaten Lampung timur dimana mayoritas beragama muslim dan masjid atau surai tetap penuh di waktu adzan berkumandang, tapi dari sana lah asal para pembajak dan para begal.yang relatif sadis dalam setiap aksinya.
Sungguh miris bila kita bayangkan, ketika kejahatan sudah menjadi hal yang di maklumi dan bahkan di izinkan .dari tulisan ini dapat di ambil beberapa kesimpulan awal bahwa memang telah terjadi pergesaran paradigma di masyarakat yang memaklumi kejahatan menjadi sesuatu yang wajar dan semuanya kembali lagi-lagi bersumber dari upaya pemenuhan kebutuhan hidup.
saya penduduk desa jabung, tidak setuju dengan tulisan saudara bahwa masyarakat kami di jabung membela pelaku kejahatan. Sepertinya anda perlu kesana…!
Memang ada sebagian pemuda yang berprofesi yang anda sebutkan, tetapi tidak pernah ada masyarakat yang membela kejahatan dengan membunyikan kentongan, melepaskan tembakan… untuk membela perampok … anda mengada-ada…
Masyarakat jabung adalah masy yang tebuka, dan mau menerima pendatang, sehingga saat ini penduduk di kecamatan jabung 60% adalah suku jawa, 20% suku lampung sisanya bali dll.
Pelaku kejahatan tidak terpusat pada satu desa/kampung, tetapi menyebar pada beberapa desa.
Untuk menciduk pelaku kejahatan, aparat perlu pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat/adat, tidak dengan menakuti masyarakat yang tidak berdosa…
Oleh: rafif on Maret 2, 2009
at 8:24 am
memang benar apa yang ditulisan diatas, tapi semua itu merupakan tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat yang ikut secara langsung maupun tidak langsung membentuk kondisi itu.
hal itu lah yang menjadi PR besar bagi pemerintah khususnya bagaimana mencari solusi biar perekonomian masyarakat bangkit..misal dengan membentuk lapangan kerja sebanyak-banyaknya.
Oleh: angga on Maret 19, 2009
at 5:42 am
Jangan gitu dUnk, tidak semua warga jabung seburuk dengan yang anda lihat. Walau tingkat kriminalitas desa jabung tertinggi diwilayah lampung masih ada warga jabung yang dapat membangun desa jabung tuk merubah keadaan desa jabung sendiri,,,,, Cayyyo jabung
Oleh: Tri Yuliana on Mei 8, 2009
at 1:39 am
memang benar semua komentar yg dibrikan untuk artikel di atas.. saya jg sempat mengcopy artikel diatas untuk saya jadikan kumpulan CATATAN KEJAHATAN WILAYAH JABUNG…
saya MENGUSULKAN buat warren buffett membuat buku yg berjudul “KEJAHATAN JABUNG” agar semua orang tau betapa kacaunya daerah jabung…
saya adalah korban dari kejahatan yg terjadi di jabung, padahal wktu kejadian itu ada aparat penegak hukum yg melihat kejadian itu. namun aparat hukum itu kayak “KAMBING CONGEAN”
Oleh: syaiful anwar on Mei 29, 2009
at 4:48 am